Laju Peduli

5 Fakta Mengerikan Musim Dingin di Palestina: Ancaman Nyata di Pengungsian

Ketika hujan turun dan angin dingin mulai berhembus di Indonesia, kita mungkin hanya perlu menarik selimut lebih tebal atau menutup jendela rapat-rapat. Namun, bayangkan jika “rumah” Anda hanyalah selembar tenda tipis yang bocor, tanpa dinding, dan tanpa penghangat, sementara suhu di luar mendekati titik beku.

Itulah gambaran nyata musim dingin di Palestina saat ini. Bagi warga Gaza yang kini hidup di pengungsian, musim dingin bukanlah tentang liburan akhir tahun, melainkan tentang pertaruhan nyawa. Krisis bahan bakar, pangan, dan tempat tinggal yang layak membuat musim ini menjadi pembunuh senyap yang menakutkan.

Mari kita buka mata terhadap realitas yang terjadi. Berikut adalah 5 fakta kondisi musim dingin yang sedang dihadapi saudara-saudara kita di sana.

Musim Dingin di Palestina

1. Tenda Darurat yang Tak Layak Huni

Mayoritas pengungsi di Gaza kini tinggal di tenda-tenda darurat yang terbuat dari kain terpal nilon tipis. Saat musim dingin di Palestina mencapai puncaknya, hujan deras seringkali disertai angin kencang. Akibatnya, air banjir masuk ke dalam tenda, membasahi kasur (jika ada) dan pakaian mereka.

Anak-anak tidur di atas tanah berlumpur yang dingin. Tidak ada tembok beton yang melindungi mereka dari tusukan angin malam. Kondisi ini memperparah risiko hipotermia, terutama bagi balita dan lansia.

2. Krisis Bahan Bakar dan Penghangat

Untuk menghangatkan tubuh, warga membutuhkan pemanas ruangan atau setidaknya api unggun. Namun, blokade ketat membuat bahan bakar gas dan minyak menjadi barang langka yang sangat mahal.

Demi bertahan hidup dari musim dingin di Palestina, banyak keluarga terpaksa membakar sampah plastik, kain bekas, atau kayu seadanya untuk membuat api. Asap beracun dari pembakaran sampah ini justru menimbulkan masalah baru, yaitu gangguan pernapasan akut (ISPA) yang kini mewabah di kalangan anak-anak.

3. Ancaman Penyakit Menular Meningkat

Suhu dingin dan kelembapan tinggi adalah “surga” bagi virus dan bakteri. Di pengungsian yang padat penduduk dengan sanitasi yang buruk, penyakit menyebar dengan sangat cepat. Flu, pneumonia, hingga diare menyerang tubuh-tubuh yang sudah lemah karena kurang gizi.

Fasilitas kesehatan yang hancur membuat akses obat-obatan menjadi sangat terbatas. Seringkali, seorang ibu hanya bisa memeluk anaknya yang demam tinggi di tengah dinginnya malam, tanpa bisa memberikan obat penurun panas.

4. Kelaparan yang Memperburuk Keadaan

Tubuh manusia membutuhkan kalori ekstra untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat saat cuaca dingin. Sayangnya, krisis pangan masih mencekik Gaza.

Jangankan makanan bergizi untuk menghangatkan badan, untuk sekadar mendapatkan sepotong roti saja mereka harus antre berjam-jam. Rasa lapar yang berpadu dengan suhu ekstrem membuat daya tahan tubuh pengungsi anjlok drastis, menjadikan mereka sangat rentan terhadap kematian.

5. Bantuan Internasional Adalah Harapan Satu-satunya

Di tengah blokade dan kehancuran infrastruktur, warga Palestina tidak bisa menghadapi musim dingin ini sendirian. Mereka sangat bergantung pada uluran tangan masyarakat dunia.

Bantuan berupa selimut tebal, jaket hangat, matras, terpal anti-air, dan paket pangan adalah benda-benda yang bisa menyelamatkan nyawa. Laju Peduli terus berupaya menyalurkan amanah donatur untuk menembus batas dan menghangatkan keluarga di sana.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Mengetahui fakta musim dingin di Palestina ini, tentu hati kita tak tenang. Kita memiliki rumah yang hangat dan makanan yang cukup. Lantas, akankah kita membiarkan mereka kedinginan sendirian?

Mari hangatkan tubuh dan hati mereka dengan sedekah terbaik kita. Bantuan Anda akan dikonversi menjadi paket “Winter Aid” (Bantuan Musim Dingin) yang berisi selimut, pakaian hangat, dan bahan bakar untuk para pengungsi.

Jangan tunggu korban berjatuhan. Bertindaklah sekarang.

Baca Juga:

Infaq Gandum Palestina — Di tengah krisis yang mencekik, gandum menjadi kebutuhan pokok yang sangat sulit dijangkau oleh warga Palestina. Anak-anak, ibu, hingga lansia berjuang untuk bertahan hidup dengan keterbatasan pangan yang ada. Mari hadir sebagai penolong, dengan infaq gandum kita bisa menguatkan mereka melewati hari-hari penuh ujian. Setiap butir gandum yang sampai, insyaAllah jadi saksi amal kebaikan kita. KLIK DI SINI untuk berdonasi atau klik gambar di bawah ini.

  • Jika Kamu suka dengan artikel ini, silahkan share melalui Media Sosial kamu.
  • Atau Kunjungi www.lajupeduli.org untuk mendapatkan artikel terupdate tentang Palestina
  • Jangan lupa ikuti sosial media kami

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Scroll to Top