Perbedaan Fidyah vs Qadha: Penjelasan Lengkap dan Mudah Dipahami
Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Setiap Muslim yang memenuhi syarat diwajibkan untuk berpuasa selama bulan Ramadhan, kecuali bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu yang dibenarkan syariat untuk meninggalkannya. Namun, ketika seseorang tidak dapat berpuasa, timbul pertanyaan: apa yang harus dilakukan untuk mengganti puasa yang terlewat?
Di sinilah konsep fidyah dan qadha menjadi penting. Banyak orang masih bingung membedakan keduanya—padahal perbedaan di antara fidyah vs qadha sangat jelas, baik dari sisi hukum, kondisi, maupun bentuk pelaksanaan.
Artikel ini akan menjelaskan perbedaan keduanya secara lengkap, natural, dan mudah dipahami, tanpa membuat pembaca merasa disalahkan atau ditekan. Penjelasan diberikan berdasarkan prinsip syariat Islam yang penuh kemudahan dan kasih sayang.
Mengenal Fidyah dalam Puasa
Fidyah adalah salah satu bentuk keringanan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang tidak mampu berpuasa dalam kondisi tertentu. Untuk memahami perbedaan fidyah vs qadha dengan tepat, kita perlu mulai dari penjelasan dasar tentang fidyah itu sendiri.
Pengertian Fidyah
Secara sederhana, fidyah adalah membayar sejumlah makanan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan. Pembayaran fidyah dilakukan per hari puasa yang terlewat.
Tujuan fidyah adalah memberikan kemudahan kepada mereka yang:
tidak mampu berpuasa secara fisik,
tidak mampu mengqadha,
atau mengalami kondisi tertentu yang membuat qadha menjadi sulit atau tidak mungkin dilakukan.
Perlu digarisbawahi bahwa fidyah bukan hukuman. Fidyah adalah keringanan, bentuk rahmah, dan kemudahan yang disediakan syariat agar ibadah tetap dapat dilaksanakan meski tidak melalui puasa langsung.
Ketentuan Fidyah Menurut Syariat
Ketentuan fidyah bersumber dari dalil Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Baqarah ayat 184:
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”
Ayat ini menunjukkan bahwa fidyah diperuntukkan bagi mereka yang mengalami masyaqqah—kesulitan besar atau ketidakmampuan dalam berpuasa.
Beberapa ketentuan dasar fidyah:
Dibayarkan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
Bentuk fidyah adalah memberi makan orang miskin atau nilai setara.
Nilai fidyah mengikuti standar satu porsi makan layak.
Fidyah boleh dibayar sekaligus atau dicicil.
Fidyah hanya sah bagi mereka yang dibenarkan oleh syariat.
Siapa Saja yang Diperbolehkan Membayar Fidyah
Untuk memahami perbedaan fidyah vs qadha, kita harus tahu siapa yang memang boleh membayar fidyah. Berikut kategori umumnya:
1. Orang Sakit Menahun
Mereka yang sakit dalam jangka panjang atau penyakitnya kecil kemungkinan sembuh sehingga tidak mungkin berpuasa.
2. Lansia yang Tidak Mampu Berpuasa
Usia lanjut sering kali disertai kelemahan fisik yang membuat puasa berbahaya atau sangat berat.
3. Ibu Hamil atau Menyusui dalam Kondisi Tertentu
Jika khawatir terhadap kesehatannya sendiri atau kondisi bayi, sebagian ulama membolehkan fidyah.
4. Kondisi Lain yang Menyulitkan Qadha
Jika seseorang secara realistis tidak dapat mengqadha di luar Ramadhan, fidyah dapat menjadi pilihan.
Semua kondisi ini menunjukkan bahwa fidyah adalah syariat yang penuh kelembutan dan sangat memperhatikan kemampuan individu.
Apa Itu Qadha Puasa?
Setelah memahami fidyah, kita beralih pada qadha. Banyak orang mengira qadha dan fidyah sama, padahal keduanya sangat berbeda baik dari sisi tujuan, kondisi, maupun pelaksanaan.
Pengertian Qadha
Qadha berarti mengganti ibadah wajib yang ditinggalkan pada waktu lain.
Dalam konteks puasa Ramadhan, qadha berarti:
berpuasa di hari lain setelah Ramadhan
dengan jumlah hari yang sama seperti yang ditinggalkan
Qadha dilakukan ketika seseorang:
sempat tidak berpuasa,
namun masih memiliki kemampuan untuk menggantinya,
dan tidak memiliki halangan permanen.
Contoh:
sakit ringan,
sedang haid,
dalam perjalanan (musafir),
gangguan kesehatan sementara.
Qadha menunjukkan bahwa syariat tetap memprioritaskan puasa sebagai bentuk ibadah langsung, selama tubuh mampu.
Ketentuan Qadha Puasa
Beberapa ketentuan qadha:
Wajib bagi siapa pun yang meninggalkan puasa karena alasan yang dibenarkan syariat.
Qadha harus dilakukan sejumlah hari yang sama.
Waktunya fleksibel—dapat dilakukan kapan saja sebelum Ramadhan berikutnya.
Tidak harus berurutan.
Niat qadha dilakukan di malam hari sebelum puasa.
Kondisi Seseorang Wajib Melakukan Qadha
Qadha diwajibkan bagi kondisi berikut:
1. Sakit yang Sifatnya Sementara
Sakit ringan yang memungkinkan sembuh dan masih bisa diganti di kemudian hari.
2. Musafir
Dalam perjalanan jauh, seseorang boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.
3. Haid dan Nifas
Wanita yang mengalami haid atau nifas wajib mengganti puasa yang ditinggalkan.
4. Kelelahan Berat yang Bersifat Sementara
Misalnya seseorang menjalani tindakan medis tertentu yang berdampak sementara.
Qadha sangat fleksibel, dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk tetap menjalankan ibadah puasanya secara langsung.
Perbedaan Fidyah vs Qadha Secara Umum
Sekarang kita masuk ke inti pembahasan: perbedaan mendasar antara fidyah vs qadha.
Perbedaan ini penting karena menyangkut:
status hukum,
kondisi fisik,
bentuk ibadah,
dan tujuan syariat.
1. Perbedaan dari Sisi Kewajiban
| Fidyah | Qadha |
|---|---|
| Jadi pengganti kewajiban puasa bagi yang tidak mampu berpuasa secara permanen. | Pengganti puasa bagi mereka yang masih mampu berpuasa di kemudian hari. |
Dengan kata lain:
Fidyah = bagi yang tidak bisa puasa.
Qadha = bagi yang bisa puasa, tetapi tertunda.
2. Perbedaan dari Sisi Kondisi
Fidyah:
✔ sakit menahun
✔ lansia
✔ ibu hamil/menyusui dalam kondisi tertentu
✔ kondisi yang menyulitkan qadha
Qadha:
✔ sakit sementara
✔ haid/nifas
✔ musafir
✔ kondisi yang memungkinkan menggantinya
3. Perbedaan dari Sisi Bentuk Ibadah
Fidyah = memberi makan orang miskin
Qadha = berpuasa seperti biasa
4. Perbedaan dari Sisi Fleksibilitas
Fidyah:
✔ boleh dicicil
✔ boleh diwakilkan
✔ boleh dibayar kapan saja
✔ bisa makanan atau uang setara
Qadha:
✔ harus dilakukan sendiri
✔ harus dalam bentuk puasa
✔ ada batas waktu (sebelum Ramadhan berikutnya)
Contoh Kasus Nyata Perbedaan Fidyah vs Qadha
Untuk semakin memperjelas perbedaan fidyah vs qadha, berikut contoh kasus yang paling umum terjadi:
Contoh 1 — Orang Sakit Menahun
Bapak Ahmad memiliki penyakit ginjal kronis dan tidak boleh menahan lapar atau haus untuk waktu lama. Dokter menyarankan agar beliau tidak berpuasa.
➜ Dalam kasus ini: fidyah, bukan qadha.
Contoh 2 — Ibu Menyusui
Ibu Dina sedang menyusui bayi usia 4 bulan. Ketika mencoba berpuasa, produksi ASI menurun dan bayinya menjadi rewel.
➜ Jika kondisi ini berlanjut: fidyah.
Contoh 3 — Wanita Haid
Mbak Siti berhalangan karena haid selama 7 hari saat Ramadhan.
➜ Wajib qadha, bukan fidyah.
Contoh 4 — Musafir
Mas Arif bepergian jauh dan tidak sanggup berpuasa saat perjalanan.
➜ Harus qadha.
Kapan Menggunakan Fidyah dan Kapan Menggunakan Qadha?
Memahami kapan fidyah digunakan dan kapan qadha digunakan adalah inti dari pembahasan ini. Dalam praktiknya, banyak orang bingung:
“Apakah saya harus fidyah atau qadha?”
“Kalau kondisi saya seperti ini, yang benar yang mana?”
Agar tidak bingung, berikut penjelasan yang disampaikan secara sederhana, natural, dan tetap merujuk pada ketentuan syariat.
Gunakan Fidyah Jika Tidak Mampu Berpuasa Secara Permanen
Fidyah digunakan untuk kondisi ketidakmampuan jangka panjang, yaitu kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk berpuasa baik sekarang maupun di waktu mendatang.
Kondisi umum fidyah:
penyakit kronis
penyakit yang kecil kemungkinan sembuh
kondisi fisik lemah karena usia
kondisi kehamilan/menyusui tertentu
keterbatasan tertentu yang membuat qadha tidak mungkin dilakukan
Jika seseorang benar-benar tidak bisa mengganti puasa, maka fidyah adalah jalan ibadah yang dibenarkan.
Gunakan Qadha Jika Mampu Berpuasa Setelah Ramadhan
Qadha digunakan untuk kondisi sementara, yaitu kondisi yang memungkinkan seseorang berpuasa di hari lain setelah Ramadhan.
Kondisi umum qadha:
sakit yang bisa sembuh
haid/nifas
musafir
kondisi tidak mampu berpuasa sementara
pekerjaan yang sifatnya membuat puasa sulit, tetapi tidak permanen
Jika seseorang masih mampu mengganti puasa, maka qadha wajib dilakukan.
Apakah Fidyah Bisa Digabung dengan Qadha?
Pertanyaan ini cukup sering muncul:
“Apakah boleh membayar fidyah dan qadha sekaligus?”
Jawabannya: tergantung kondisinya.
1. Jika Seseorang Masih Bisa Qadha → Tidak Boleh Mengganti dengan Fidyah
Contoh:
Seseorang sakit demam tinggi 3 hari di Ramadhan. Setelah sembuh, ia kembali sehat dan bugar.
Dalam kasus ini:
fidyah tidak boleh digunakan
qadha wajib dilakukan
Karena kondisi sakitnya bersifat sementara.
2. Jika Seseorang Tidak Bisa Qadha → Fidyah Menjadi Solusi
Contoh:
Seseorang menjalani operasi besar dan membutuhkan pemulihan jangka panjang sehingga secara medis tidak boleh berpuasa berbulan-bulan.
Dalam kasus ini:
qadha menjadi tidak mungkin,
dan fidyah dapat menggantikannya.
Ini menunjukkan fleksibilitas syariat.
3. Kasus Khusus: Ibu Hamil/Menyusui Tergantung Kondisi
Pendapat ulama berbeda, namun secara garis besar:
jika khawatir pada bayinya → qadha + fidyah (menurut sebagian ulama)
jika khawatir pada dirinya sendiri → cukup qadha
jika tidak mampu qadha karena alasan tertentu → fidyah diperbolehkan
Yang terpenting adalah melihat kondisi fisik, kemampuan, dan konsultasi jika diperlukan.
Ringkasan Perbedaan Fidyah vs Qadha (Tabel Lengkap)
Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel lengkap yang merangkum seluruh perbedaan fidyah dan qadha:
| Aspek | Fidyah | Qadha |
|---|---|---|
| Tujuan | Pengganti puasa bagi yang tidak mampu | Mengganti puasa yang terlewat |
| Kondisi | Ketidakmampuan permanen | Ketidakmampuan sementara |
| Contoh Kondisi | Lansia, sakit menahun, kondisi khusus | Sakit ringan, haid, musafir |
| Bentuk Ibadah | Memberi makan fakir miskin | Berpuasa di hari lain |
| Pelaksana | Dapat diwakilkan | Harus dilakukan sendiri |
| Waktu Pelaksanaan | Fleksibel, kapan saja | Sebelum Ramadhan berikutnya |
| Boleh Dicicil? | Ya | Tidak berlaku, harus puasa harian |
| Jumlah | Per hari puasa → 1 porsi makan | Sama dengan hari yang ditinggalkan |
| Pengganti Qadha? | Ya, jika tak mampu qadha | Tidak dapat menggantikan fidyah |
| Dalil | QS. Al-Baqarah: 184 | Ijma’ ulama & hadits terkait puasa |
Tabel ini memberi gambaran menyeluruh, memudahkan pembaca memahami konteks dan perbedaan secara utuh.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Perbedaan Fidyah vs Qadha
Dalam pembahasan fikih puasa, ada beberapa pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh umat. Bagian ini membantu menjawabnya dengan bahasa yang ringan, tidak menghakimi, dan mudah dipahami.
1. Apakah Fidyah Boleh Diganti dengan Uang?
Mayoritas ulama membolehkan fidyah diberikan dalam bentuk nilai uang setara dengan makanan. Ini dilakukan agar mustahik tetap menerima manfaat yang sama.
2. Jika Seseorang Mampu Berpuasa, Apakah Boleh Memilih Fidyah Saja?
Tidak.
Jika seseorang mampu berpuasa, maka qadha adalah kewajiban utama, bukan fidyah.
Fidyah hanya untuk kondisi yang tidak mampu, bukan tidak mau.
3. Apakah Qadha Harus Dilakukan Sebelum Ramadhan Berikutnya?
Ya.
Batas waktu qadha adalah sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.
Namun, jika terlambat:
qadha tetap wajib
sebagian ulama menambahkan fidyah sebagai bentuk pelanggaran waktu
Ini bertujuan mengingatkan agar ibadah tetap dijaga dan tidak ditunda terlalu lama.
4. Apakah Boleh Menggabungkan Niat Qadha dan Puasa Sunah?
Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh, karena qadha adalah ibadah wajib dan harus diniatkan khusus.
5. Jika Lupa Jumlah Hari Puasa yang Ditangguhkan, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika lupa, maka mengambil jumlah yang paling aman (perkiraan terbanyak yang mungkin) adalah sikap yang disarankan oleh ulama.
Memahami Hikmah di Balik Fidyah dan Qadha
Fidyah dan qadha bukan sekadar aturan syariat, tetapi juga mencerminkan:
keringanan,
kelembutan,
dan keluwesan hukum Islam.
Syariat tidak dibuat untuk menyulitkan.
Sebaliknya, Islam memberikan ruang pilihan berdasarkan kemampuan individu.
Hikmah Fidyah
Fidyah memiliki beberapa hikmah:
Menjadi pilihan ibadah bagi mereka yang tidak mampu puasa.
Membantu mustahik melalui pemberian makanan.
Menunjukkan bahwa syariat sesuai kapasitas manusia.
Membuka pintu kebaikan bagi yang memiliki keterbatasan.
Hikmah Qadha
Qadha juga memiliki nilai ibadah yang besar:
Mengajarkan kedisiplinan dalam menunaikan kewajiban.
Mempertahankan kemurnian nilai puasa.
Memberikan kesempatan memperbaiki amalan yang tertunda.
Menguatkan komitmen spiritual.
Penutup: Menemukan Keseimbangan antara Fidyah dan Qadha
Setelah memahami perbedaan fidyah vs qadha dari berbagai sisi—mulai dari definisi, kondisi, hukum, hingga contoh kasus—kita bisa menyimpulkan bahwa kedua ibadah ini menunjukkan betapa syariat Islam penuh kelembutan dan fleksibilitas.
Fidyah menunjukkan kemudahan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa.
Qadha menunjukkan kesempatan untuk mengganti ibadah bagi mereka yang mampu melakukannya.
Keduanya adalah bentuk rahmah dan petunjuk Allah agar umat dapat beribadah sesuai kemampuan.
Semoga pembahasan ini membantu siapa pun yang masih bingung menentukan apakah mereka harus fidyah atau qadha, dan memberikan pemahaman yang netral, lengkap, dan mudah dipahami.
Baca Juga:
- Mengenal Fidyah Puasa dan Tujuan Disyariatkannya
- Donasi Palestina Online: 10 Program Bantuan Untuk Palestina
- Donasi Online 100% Aman dan Transparan
- Apa Itu Fidyah? Panduan Lengkap & Mudah Dipahami
Yuk lunasi hutang puasa dengan tunaikan fidyah untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. KLIK DI SINI untuk menunaikan fidyah atau klik gambar di bawah ini.
- Jika Kamu suka dengan artikel ini, silahkan share melalui Media Sosial kamu.
- Atau Kunjungi www.lajupeduli.org untuk mendapatkan artikel terupdate tentang Palestina
- Jangan lupa ikuti sosial media kami






